BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Perilaku seksual ialah perilaku yang melibatkan sentuhan
secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada
tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri.
Sedangkan perilaku seks pranikah merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa
melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan
kepercayaan masing-masing individu. Perilaku seks pranikah ini memang kasat
mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau
dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung
(tidak kasat mata).
Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk
melakukan perilaku seks pranikah. Motivasi merupakan penggerak perilaku.
Hubungan antar kedua konstruk ini cukup kompleks, antara lain dapat dilihat
sebagai berikut : Motivasi yang sama dapat saja menggerakkan perilaku yang
berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat saja diarahkan oleh motivasi
yang berbeda. Motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan
perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah tersebut
dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan
kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen
yang jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love); atau karena
pengaruh kelompok (konformitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian
dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya,
dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah.
1. Rumusan masalah
Dalam makalah ini penulis membuat
perumusan untuk mengetahui bagaimana konseling seks pranikah.
2. Tujuan makalah
Tujuan pembuatan dari makalah ini
adalah untuk melengkapi tugas psikologi konseling tentang konseling seks
pranikah.
3. Manfaat makalah
Manfaaat dari makalah ini
adalah untuk menambah pengetahuan
tentang konseling pranikah.
BAB II
PEMBAHASAN
B. Kehidupan
remaja saat ini
Pergaulan kalangan remaja saat ini mulai tak terkontrol lagi, pergaulan
yang semakin bebas membuat para remaja melanggar norma-norma dalam lingkungan
masyarakat.
Banyaknya vidio-vidio mesum yang buming di kalangan remaja, vidio tersebut
pu di adegani oleh para pelajar juga. Seks bebas di kalangan remaja sudah bukan
hal yang tabu lagi karena pergaulan bebas sudah menjadi trend. Mirisnya
kehidupan remaja zaman sekarang mereka di rusak oleh moral-moral barat,
masuknya obat-obatan terlarang, vidio-vidio mesum sudah menjadi makanan
sehari-hari.
Pada masa remaja,
kedekatannya dengan peer-groupnya sangat tinggi karena selain ikatan peer-group
menggantikan ikatan keluarga, mereka juga merupakan sumber afeksi, simpati, dan
pengertian, saling berbagi pengalaman dan sebagai tempat remaja untuk mencapai
otonomi dan independensi. Maka tak heran bila remaja mempunyai kecenderungan
untuk mengadopsi informasi yang diterima oleh teman-temannya, tanpa memiliki
dasar informasi yang signifikan dari sumber yang lebih dapat dipercaya.
Informasi dari teman-temannya tersebut, dalam hal ini sehubungan dengan
perilaku seks pranikah, tak jarang menimbulkan rasa penasaran yang membentuk
serangkaian pertanyaan dalam diri remaja. Untuk menjawab pertanyaan itu
sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang diterima, mereka cenderung melakukan
dan mengalami perilaku seks pranikah itu sendiri.
C. Seks
pranikah
Pengaruh media dan televisi pun sering kali diimitasi
oleh remaja dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton
film remaja yang berkebudayaan barat, melalui observational learning, mereka
melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat diterima lingkungan. Hal ini
pun diimitasi oleh mereka, terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan
kebudayaan, nilai serta norma-norma dalam lingkungan masyakarat yang berbeda. Perilaku
yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan remaja pada umumnya dapat
dipengaruhi orang tua. Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman mengenai
perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya cenderung mengontrol
perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman yang diberikan orang tuanya. Hal ini terjadi karena
pada dasarnya pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua
sendiri, dan dapat pula diwujudkan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga sebagai suami istri yang bersatu dalam perkawinan
yang harmonis.
Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila
pengetahuan orang tua kurang memadai menyebabkan sikap kurang terbuka dan
cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks anak.
Akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat. Seorang peneliti
menyimpulkan hasil penelitiannya sebagai berikut: informasi seks yang tidak
sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia remaja ini mengakibatkan
remaja terlibat dalam kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan mental,
ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan seks. Dalam
hal ini, terciptanya konflik dan gangguan mental serta ide-ide yang salah dapat
memungkinkan seorang remaja untuk
melakukan prilaku seks pranikah.
Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah tersebut
dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan
kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen
yang jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love); atau karena
pengaruh kelompok (konformitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian
dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh
kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah.
D. Bimbingan
konseling
Perilaku yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan
remaja pada umumnya dapat dipengaruhi orang tua. Bilamana orang tua mampu
memberikan pemahaman mengenai perilaku seks kepada anak-anaknya, maka
anak-anaknya cenderung mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman
yang diberikan orang tuanya. Hal ini terjadi karena pada dasarnya
pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sendiri, dan
dapat pula diwujudkan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga sebagai
suami-istri yang bersatu dalam perkawinan yang harmonis. Kesulitan yang timbul
kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai menyebabkan sikap
kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah
seks anak. Akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat.
Informasi seks yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia
remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus berupa
konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan
yang berhubungan dengan seks. Dalam hal ini, terciptanya konflik dan gangguan
mental serta ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja untuk
melakukan perilaku seks pranikah. Pendidikan
agama juga sangat penting untuk pertumbuhan remaja, dengan didasari pengetahuan
agama yang kuat remaja tidak akan melakukan hubungan seks pranikah karena
meraka tau hukum dan madharotnya melakukan hubungan seks pranikah, dan mereka
juga bisa mengontrol hawa nafsunya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kehidupan remaja pda zaman sekarang telah banyak menuai pro dan kontra, kenakalan-kenakalan
remaja sudah menjadi makanan sehari-hari. Mirisnya mereka melanggar norma-norma
masyarakat dan melanggar kaidah-kaidah agama, seks bebes, penggunaan
obat-obatan terlarang bukan hal yang tabu lagi karena mereka menganut pergaulan
bebas.
Pendidikan orang tua sangat berpengaruh bagi pertumbuhan remaja dengan
hubungan suami istri dalam perkawinan yang sah dan harmonis serta ajaran
tentang pengetahuan agama untuk bekal kehidupan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar