Jumat, 13 Mei 2016

Teori psikologi belajar

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. atas rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat meyelesaikan makalah yang sangat sederhana ini. Adapun penyajian materi yang kami sajikan adalah berdasarkan sumber-sumber yang kami anggap berkualitas.Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan memberikan masukan-masukan saran yang sangat berarti bagi kami.
Segala bentuk kritik dan saran yang bersifat membangun, kami terima dengan senang hati demi memperbaiki kekurangan makalah ini.
            Kami berharap dengan adanya makalah ini, bisa bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan yang kita miliki terutama tentang Keberagamaan islam di indonesia. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih atas segala perhati





BAB I
PEMBAHASAN
A.    Teori kohler
Pengalaman sehari-hari dalam pemecahan masalah adakalanya dalam beberapa waktu lamanya kita tidak berhasil dalam memecahkannya, yang kadang dengan tiba-tiba nampaklah titik terang pemecahannya, kita mengetahui bagaimana dapat keluar dari kesukaran yang kita hadapi. Setelah itu penyelesaian yang pernah kita temukan tersebut dapat mudah kita ulang kembali walaupun situasinya agak berbeda dengan situasi terdahulu.
Pada dasarnya ada beberapa tata cara atau prosedur yang dapat digunakan dalam proses pemecahan masalah diantaranya yaitu: Algoritmik, Heuristik, Analogi, dan Simulasi komputer. Analogi merupakan cara yang sering digunakan orang, analogi ini dilakukan dengan cara membandingkan pola masalah yang tengah dihadapi dengan pola masalah serupa yang pernah dialami baik oleh orang yang bersangkutan maupun yang pernah dialami oleh orang lain. Jadi tidak dapat disangkal bahwa atas dasar hasil belajar yang telah dicapai melalui proses belajar yang terdahulu tentu seringkali masih dapat diterapkan pada proses belajar yang baru.
Sebagaimana penelitian yang pernah dilakukan Kohler dan Koffka pada simpanse yang diberinya nama Sultan, mereka menemukan tumbuhnya insight pada Sultan dengan menghadapkannya pada masalah bagaimana memperoleh pisang yang terletak di luar kurungan. Pada tahap awal Sultan memecahkan masalahnya melalui metode algoritmik dalam problem solving yaitu trial and error secara buta. Dari proses coba dan salah itu kemudian Sultan menemukan suatu pemecahan masalah yang disebut aha-erlibnis untuk mendapatkan pisang yang ada di luar kurungan yaitu dengan menggabungkan dua buah tongkat yang memang telah dikondisikan oleh peneliti. Setelah memperoleh insight ini Sultan bisa dengan langsung dapat mengambil pisang yang ada di luar kurungan sesuai pengalaman yang telah diperoleh sebelumnya.
Penelitian-penelitian mereka menumbuhkan psikologi gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengalaman, yaitu pengalaman berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan (gestalt). Jadi salah satu ciri-ciri penemuan penyelesaian masalah melalui insight learning dalam penelitian Kohler dan Koffka adalah bila penyesuaian itu telah ditemukan, maka simpanse itu dengan mudah dapat mengulanginya, juga bila situasinya tidak persis seperti yang sebelumnya. Hal ini juga memiliki kesamaan cara pemecahan masalah berdasarkan pendekatan analogi yaitu cara membandingkan pola masalah yang tengah dihadapi dengan pola masalah serupa yang pernah dialami.
B.     Teori Piaget
Ahli biolog, psikolog, epistemologis swiss, jean piaget (1896-1980) merumuskan teori perkembangan kognitif di mana perkembangan merupakan interaksi kreatif dan berkelanjutan antara anak dan lingkungan, dan dimana kegiatan tubuh dan sensori anak berkontribusi dalam perkembangan intelegensi dan keahlian berfikir. Menurut piaget, empat tahapan utama dan berbeda terjadi secara berurutan dalam perkembangan di mana tiap anak harus melewati keempat tahap tersebut. Namun tahapan-tahapan ini bukan sesuatu yang kaku dalam rangkaian waktu, melainkan dapat tumpang tindih dan usia hanya perkiraan yang menentukan kemunculan tahapan yang terjadi. Tahap piaget 1) tahapan sensori motor dari kelahiran sampai kira-kira dua tahun, anak pada tahap ini belajar menggunakan tubuhnya dan semua pengalaman di peroleh secara langsung melalui indra di mana stimulus sensori cukup penting dalam mengembangkan kemampuan anak, istilah intelegensi praktis digunakan untuk menggambarkan prilaku tahap ini, dimana anak belajar untuk bertindak di dunia tanpa memikirkan tentang apa yang tejadi 2) tahap properasional terjadi mulai usia 2-7 tahun selama periode sebelum sekolah ketika anak mulai menggunakan kata-kata mulai dari kalimat dengan satu atau dua kata pada usia dua ke kalimat dengan 8-10 kata pada usia lima tahun dan dapat memahami bahwa objek dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dan mempertahankan keberadaan bahkan ketika anak tidak menerima pergerakan objek, pemahaman lebih lengkap tentang kepermanenan objek tejadi selama periode ini dimana pemikiran anak berdasar image, meningkat dan berkembang dengan kapasitas yang di sebut representasi, dengan representasi anak dapat berfikir tentang beberapa tindakan yang tidak di lakukan, dapat berfikir tentang kejadian yang sesungguhnya tidak terjadi, dan dapat memikirkan objek ketika objek itu tidak ada 3) tahap operasi konkret muncul sekitar 7-11 tahun selama usia sekolah anak di mana anak melanjutkat menggunakan pemikiran “intuitif” yang menjadi ciri periode preoperasional selama tahap ini anak juga mulai mengembangkan pemahaman  “oprasi konkret” seperti percakapan tentang liquid dan penambahan dan perkalian dari kelas objek dimana dia mengadakan transformasi secara mental tanpa mengadakannya secara fisik. 4) tahap operasional formal terjadi sekitar usia 11-15 tahun mulai remaja dan lanjut berkembang sampai kedewasaan, individu pada tahap ini dapat berfikir dalam cara hipotesis dan mengadakan tes sistematis terhadap berbagai kemungkinan penjelasan suatu fenomena atau kejadian khusus, pola berpikir rasional sekarang berkembang di mana makna simbolis dipahami, dan adanya strategi mental abstrak.
Menurut piaget intelegensi anak dan pemahaman atas kejadian tampaknya di konstruksi sebagai hasil dari pertemuan anak dan lingkungannya dimana dia merasakan deskrepansi antara apa yang telah dia pahami dan apa yang dipresentasikan oleh lingkungan kepadanya. Piaget menggunakan skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrem dalam pembahasanya.
1. Skema
istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan.
Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual.
Adaptasi terdiri atas proses yang saling mengisi antara asimilasi dan akomodasi
2. Asimilasi
asimilasi itu suatu proses kognitif, dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yan ada atau tingkah laku yang ada. Asimilasi berlangsung setiap saat. Seseorang tidak hanya memperoses satu stimulis saja, melainkan memproses banyak stimulus. Secara teoritis, asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata, tetapi asimilasi mempnagruhi pertumbuhan skemata. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses kognitif, denga proses itu individu secara kognitif megadaptsi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu.
3. Akomodasi
Akomodasi dapat diartikan sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan disebut oleh Piaget adalah keseimbangan.
            4. ekuilibirum digunakan piaget untuk meringkas efek gabungan asimilasi dan akomodasi



BAB II
KESIMPULAN

A.    teori kohler pada dasarnya ada beberapa tata cara atau prosedur yang dapat digunakan dalam proses pemecahan masalah diantaranya yaitu: Algoritmik, Heuristik, Analogi, dan Simulasi komputer. Analogi merupakan cara yang sering digunakan orang, analogi ini dilakukan dengan cara membandingkan pola masalah yang tengah dihadapi dengan pola masalah serupa yang pernah dialami baik oleh orang yang bersangkutan maupun yang pernah dialami oleh orang lain. Jadi tidak dapat disangkal bahwa atas dasar hasil belajar yang telah dicapai melalui proses belajar yang terdahulu tentu seringkali masih dapat diterapkan pada proses belajar yang baru.

B.     Ahli biolog, psikolog, epistemologis swiss, jean piaget (1896-1980) merumuskan teori perkembangan kognitif di mana perkembangan merupakan interaksi kreatif dan berkelanjutan antara anak dan lingkungan, dan dimana kegiatan tubuh dan sensori anak berkontribusi dalam perkembangan intelegensi dan keahlian berfikir. Menurut piaget intelegensi anak dan pemahaman atas kejadian tampaknya di konstruksi sebagai hasil dari pertemuan anak dan lingkungannya dimana dia merasakan deskrepansi antara apa yang telah dia pahami dan apa yang dipresentasikan oleh lingkungan kepadanya. Piaget menggunakan skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrem dalam pembahasanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar